Selamat datang di website kami, Haidar Khotir, semoga sajian kami bermanfaat

Meraih Pahala dari Fitnah Harta dan Anak


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri merasakan betapa besarnya ujian anak. 

Ketika tengah berkhutbah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampai memutus khutbah beliau karena melihat kedua cucu beliau. Hal ini kita ketahui dari hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu berikut ini:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah kepada kami,

lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain, semoga Allah subhanahu wata’ala meridhai keduanya, 
dengan mengenakan gamis berwarna merah.

Keduanya jatuh tergelincir dan bangun/bangkit kembali. 
Sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun dari mimbar, mengambil keduanya lalu naik mimbar sambil membawa keduanya. 

Kemudian beliau bersabda,

“Mahabenar Allah, Dia telah berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah bagi kalian.’ Aku melihat kedua anak ini maka aku tidak sabar/tidak bisa menahan diri untuk menghampiri keduanya.” Setelah itu beliau mulai lagi berkhutbah. 
(HR. Abu Dawud no. 1109 dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

@ Menunjukkan:

Fitnah anak dalam arti bisa mengganggu dan menghentikan aktivitas seseorang pernah dirasakan juga oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (dalam penjelasan hadits diatas)

Firman Allah subhanahu wata'ala,

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”
(QS. At-Taghabun: 15) 

@ Penjelasan:

Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebut harta dan anak sebagai fitnah,
yaitu surah Al-Anfal ayat 28 dan surah At-Taghabun ayat 15,

Perbedaan antara dua surat adalah  Allah menggunakan redaksi pemberitahuan “Dan ketahuilah" pada surat Al-Anfal ayat 28 sedangkan surat At-Taghabun ayat 15, Allah menggunakan redaksi penegasan "Sesungguhnya"

Namun ungkapan yang mengakhiri kedua ayat tersebut sama, yaitu “di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Sehingga bisa dipahami bahwa fitnah harta dan anak bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, namun di sisi lain justru bisa menjadi peluang meraih pahala yang besar dari Allah subhanahu wata'ala.

Dan makna yang kedua itulah yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Allah mengingatkannya di akhir ayat yang berbicara tentang fitnah anak dan harta “dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Penjelasan Tentang apa itu Fitnah:

Fitnah dalam kedua ayat ini bukan dalam arti Bahasa Indonesia, yaitu setiap perkataan yang bermaksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatannya.

Tetapi fitnah yang dimaksud dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah uji pada harta dan anak seseorang. Fitnah di sini juga dalam arti bisa menyibukkan atau memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat dan mengerjakan amal taat kepada Allah

Referensi:
Terinspirasi Kajian di Masjid Al-Hidayah oleh ust.  Abu Abdirrahman , 27 Februari 2013
http://2.bp.blogspot.com/-lne4bjqBNdc/T8ESl7vBVvI/AAAAAAAAAGQ/VYrimvqZ1Nk/s1600/benih-01.jpg
http://asysyariah.com/jangan-lalai-dari-dzikrullah.html
selengkapnya: http://www.dakwatuna.com/2007/03/125/meraih-pahala-dari-fitnah-harta-dan-anak/

Memahami Niat

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. dari apa yang diriwayatkan dari Allah azza wa jalla, bersabda:

Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskan keduanya,
maka siapa yang niat akan berbuat kebaikan (hasanat) lalu tidak dikerjakannya dicatat untuknya satu kebaikan yang sempurna dan bila dikerjakannya dicatat oleh Allah sepuluh kebaikan, dapat bertambah hingga tujuh ratus kali, dan dapat berlipat lebih dari itu

Sebaliknya, jika niat akan berbuat keburukan (sayyiat) lalu tidak dikerjakan, dicatat untuknya satu kebaikan yang cukup (sempurna), dan bila niat lalu dilaksanakan maka dicatat satu dosa.
(HR. Bukhari, Muslim).

Penjelasan:

@ 1. Contoh : orang yang berniat untuk bersedekah, kemudian dia menentukan sesuatu yang mau disedekahkan, namun karena terjadi suatu hal yang kemudian menjadikan ia tidak bersedekah.

orang yang berniat shalat sunnah, namun karena ada suatu perihal maka tidak jadi.dsb

Kenapa tercatat satu kebaikan yang sempurna (utuh) padahal tidak melakukan perbuatan?

karena :I. Sesungguhnya anugerah Allah itu luas dan diberikan kepada orang yang dikehendaki.
II.niat yang dilakukannya dinilai satu amal kebajikan yang utuh (tanpa cacat sedikitpun).

Bahwasanya hati itu punya keinginan dan banyak sekali rencana, diwaktu pagi kita punya rencana begini dan siang begini dan begitu serta malam kita punya rencana begitu.

Kok bisa beda-beda ganjaran amal kebaikan?
menuntut dua syarat dinilainya ibadah, yakni :kualitas keikhlasan kepada Allah dan kualitas Ittiba' Rasul (Batasan minimal, jika suatu kebaikan diamalkan oleh seseorang  adalah 10 kebaikan, ditentukan dengan syarat dinilainya ibadah).

@ 2. contoh seseorang yang berniat untuk Bermaksiat, namun kemudian meninggalkan maksiat karena Allah, maka untuknya satu kebaikan yang sempurna.

Allah tidak menambahi dosa seseorang dan juga tidak mengurangi pahala seseorang.

kenapa tidak sayyiat kamila (satu keburukan) ?
kalimat ini menegaskan satu yang sedikit, satu yang cuma hanya satu saja.

jika seseorang meninggalkan suatu keburukan bukan karena Allah tapi karena seseorang (pandangan manusia) maka baginya keburukan.

jika seseorang berniat buruk, namun karena oleh suatu hal  kemudian seseorang itu lupa. maka tidak ada pahala dan dosa


Referensi:
Terinspirasi Kajian di Masjid Al-Hadiyah oleh ust. Aris Munandar, 25 Februari 2013
http://bukharimuslim.wordpress.com/2010/04/08/bab-niat-akan-berbuat-kebaikan-dicatat-baik-dan-niat-akan-berbuat-dosa-tidak-dicatat-apa-apa-2/ 
http://2.bp.blogspot.com/-ywiqOwaKJsI/UNs1U5q6MZI/AAAAAAAAJjY/PR6fODHOITY/s1600/Sujud+%28Sajdah%29+Wallpapers+%282%29.jpg

Sebarkanlah Salam Diantara Kalian

Dan Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.(Q.S. An Nisa:86)

Hadits Shahih,

"Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makan (yang membutuhkan), sambunglah kekerabatan, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan memasuki syurga dengan selamat."

"Sesungguhnya as-Salam (Maha Pemberi Keselamatan) adalah salah satu nama dari nama-nama Allah yang Maha Tinggi yang diletakkan-Nya di bumi. Maka sebarkanlah salam di antara kalian."

Hadits yang Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi,

Dari Abu Hurairah, dia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: "Demi Zat yang dirinya berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk syurga sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) sehingga kalian saling mencintai. Mahukah kalian kuberitahu sesuatu yang jika kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian."(HR at-Tirmidzi (2688)

___________________

@ Ketika seseorang melakukan penghormatan kepada kita, maka balaslah yang serupa atau yang lebih baik.

salah satu bentuk penghormatan diantaranya selamat pagi, selamat siang dsb.kata-kata tersebut itu berbeda dengan Salam dalam Islam, karena Salam dalam Islam memandang makna yang dalam yang menunjukkan do'a yaitu: "assalâmu ‘alaikum" yang artinya : semoga diberikan keselamatan atasmu. dan ini adalah salam yang syar'i atau yang diperintahkan .Oleh karena itu, tidak diperbolehkan melontarkan salam kepada orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab. dan jika ada dari orang-orang kafir mengucapkan salam yang syar'i : "assalâmu ‘alaikum" maka jawablah dengan wa'alaikum.

jika ada teman kita sesama muslim mengucapkan assalâmu ‘alaikum maka jawablah dengan wa'alaikumussalâm warahmatullah atau yang serupa "wa'alaikumussalâm" , kalau dia mengucapkan assalâmu ‘alaikum warahmatullâh maka jawablah wa'alaikumussalâm warahmatulâhi wabarakâtuh atau yang serupa wa'alaikumussalâm warahmatullah.
(intinya adalah jawablah dengan yang serupa atau lebih dari itu sesuai yang diajarkan oleh rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam)

ucapan assalâmu ‘alaikum mencakup nama Allah, as-Salâm, dan memohon keselamatan dari-Nya.(As-salâm :Maha memberi keselamatan)

sesuatu yang jika dikerjakan, niscaya akan saling mencintai yaitu Sebarkanlah salam di antara kalian.

@ Ketika dua orang bertemu, tindakan pertama yang menunjukkan tanda persahabatan mereka adalah

ucapan salam kemudian berjabat tangan.

Memberi salam kepada sesama pada dasarnya merupakan salah satu agenda Islam untuk membangun manusia, di mana hal ini dapat menghilangkan sifat-sifat negatif seperti kedengkian dan permusuhan serta menggantikannya dengan cinta.

Memberi salam dan berjabat tangan akan semakin mendekatkan hubungan antarsesama manusia.

Referensi:

Terinspirasi Kajian di Masjid Al-Hidayah, 20 Februari 2012 oleh Ust. Abu Abdirrahman
http://kolom.abatasa.com/
kolom/detail/nasehat/198/kewajiban-mengucapkan-salam-.html
http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/05/20/14813/bila-orang-kafir-mengucapkan-salam-bagaimana-menjawabnya/
http://indonesian.irib.ir/headline2/-/asset_publisher/0JAr/content/salam-anugerah-ilahi
http://indonesian.irib.ir/al-quran/-/asset_publisher/b9BB/content/id/5208469
http://ms.wikibooks.org/wiki/Islam/Adab_bergaul

http://3.bp.blogspot.com/-QdjJc64GBdI/TaFauUEiLDI/AAAAAAAAAD4/xTktZEZqNlw/s1600/persahabatan.jpg

3 Perniagaan yang Takkan Merugi

 Seorang pebisnis ada kemungkinan untuk merugi, pernah kita lihat/dengar bahwa kemudian pemilik perusahaan yang besar mengalami kerugian yang teramat besar. namun ada nih bisnis atau perniagaan yang takkan pernah merugi alias memperoleh keuntungan terus?

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."

(QS Fathir [35]: 29-30).

3 point penting dari ayat diatas mengenai perniagaan yang takkan merugi adalah:

1. membaca kitab Allah, yakni Al-qur'an . bukan hanya membaca saja melainkan juga memahami apa yang dibaca.

2. mendirikan shalat, bukan hanya melaksanakan shalat. jika seseorang sudah bisa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan berarti orang tersebut telah mendirikan shalat. namun jika ternyata orang tersebut STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan) maka shalatnya belum betul-betul mendirikan shalat alias orang tersebut hanya melaksanakan shalat.

3.menafkahkan rezeki , baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi , baik berupa zakat, infak dan shadaqah ataupun wakaf dsb.

Semoga makin memahami...


Referensi:
Terinspirasi Kajian hadits No 68 dan 69 oleh Ustadz Abu Abdirrahman, 13 Februari 2013 di Masjid Al-Hidayah
http://www.faizalehsan.com/wp-content/uploads/2010/04/rancangan-perniagaan.jpg

Pentingnya Meluruskan Shaf

Dari Anas bin Malik radhiallahu  dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat”
(Hadits riwayat Bukhari, dalam Fathul Bari No 723, Muslim no. 433)

@ Kesimpulan yang bisa diambil:

1. Perintah Meluruskan Shaf

Meluruskan shaf merupakan perintah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Secara kaidah ushul, hukum asal suatu perintah adalah wajib kecuali ada dalil yang merubah dari hukum wajib menjadi sunnah ataupun anjuran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Dan segala yang datang dari Ar Rasul (baik dari perkataan, perbuatan, ataupun persetujuan), maka laksanakanlah.” (Al Hasyr: 7)

2. Ketidak-sempurnaan shalat jika tidak meluruskan dan merapatkan shaf-shaf
3. Keutamaan shalat berjamaah di tentukan oleh lurusnya shaf
4. Hikmah meluruskan dan merapatkan shaf diantaranya : berusaha untuk sesuai dengan barisan malaikat ketika menghadap Allah.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:

“Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Tuhan mereka ?” Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Tuhan mereka ?” Beliau menjawab : “Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan”
(HR: Muslim, An Nasa’I dan Ibnu Khuzaimah)

5. Secara dhohir,wajibnya meluruskan shaf dan diharamkan tidak lurusnya shaf

6. Dengan tidak meluruskan shaf-shaf, maka dengan itu hatinya menjadi berselisih (wajah-wajah kalian berselisih) dan Ketika suatu perbuatan itu berupa ancaman maka jika dilanggar maka berdosa.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

“Benar-benarlah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan membuat berselisih di antara wajah-wajah kalian”

(Hadits riwayat Bukhari 717, Muslim 127, Lafadz ini dari Muslim)

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah, “Makna hadist ini adalah akan terjadi di antara kalian permusuhan, kebencian dan perselisihan di hati”

7. Meluruskan shaf termasuk tugas Imam, jika Imam  tidak mengingatkan atau memerintahkan makmum untuk meluruskan shaf , maka akan menjadi tanggungan Imam.

8. Bolehnya Imam berbicara antara selesai Iqomah dan ketika akan shalat berjamaah, jika dibutuhkan untuk meluruskan shaf.

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam itu meratakan antara shaf-shaf kita, sehingga seolah-olah diratakannya barisan anak panah.

Ketika imam mengucapkan, “Sawu sufufakum…” saya dengar orang disebelah saya mengucapkan, “Sami’na wa atha’na,” apakah ini sunnah?

Ketika imam mengucapkan, “Sawu sufufakum…” Tidak ada keharusan seseorang mengucapkan “Sami’na wa atho’na,” kalau ini diucapkan oleh salah seorang jama'ah dan menyakini bahwa hal ini adalah sunnah, maka dia telah berbuat bid'ah, karena tidak ada dalil yang mengharuskan untuk mengucapkan seperti itu. Tetapi yang penting adalah seorang makmum segera mentaati perintah imam tersebut untuk merapatkan dan meluruskan shaf.

Konon menurut suatu riwayat Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu sangat tegas dalam masalah ini sehingga beliau pernah meluruskan shaf barisan sholat berjamaah dengan menggunakan pedangnya.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu’man bin Basyir, Beliau berkata, yang artinya: “Dahulu Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah, hingga beliau menganggap kami telah paham terhadap apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shaf kami telah rapi – pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda:”Wahai para hamba Alloh, sungguh kalian benar-benar lurus dalam shaf kalian, atau Alloh akan memperselisihkan wajah-wajah kalian”. (HR: Muslim)

@ Kesimpulan yang bisa diambil:

1. Ada ancaman yang besar pada orang yang tidak meluruskan shaf
2. Akan menjadikan hati-hati diantara mereka berselisih, bisa dilihat dari shalat jamaahnya dan kerenggangan membuat hati  tidak menyatu
3. Allah memberi ancaman kepada orang-orang yang tidak meluruskan shaf dengan membuatnya berselisih.
4. Renggangnya shaf ataupun tidak lurusnya shaf menunjukkan kesombongan didalam hati,orang yang disampingnya pun ada rasa yang menunjukkan dengan balasan. sehingga hati-hati pun menjadi berselisih.Dan tujuan dari shalat berjamaah 'hilang', diantara dari tujuan shalat berjamaah diantaranya untuk menunjukkan kecintaan dan silaturahim diantara umat islam.sehingga yang belum kenal menjadi kenal.( misal: yang dulunya dekat rumahnya bisa jadi tidak saling kenal dekat karena tidak memiliki waktu untuk berinteraksi  namun kenalnya karena berjamaah di masjid)
5. Balasan tergantung pada jenis amalnya, jika meluruskan atau merapatkan shaf, maka Allah akan menunjukkan kecintaan dan ukhuwah islamiyyah.Sedangkan jika tidak meluruskan atau merapatkan shaf, maka Allah akan menunjukkan perselisihan diantara mereka.

Ketika ada satu orang yang batal dan mengakibatkan shaf menjadi kosong, untuk menutup shaf yang kosong apakah harus bergeser ke kanan ke kiri atau dari belakang ke depan?

maka yang mengisi kekosongan adalah orang yang dibelakang orang yang batal tadi (tidak bergeser kanan kiri, namun yang dari belakang ke depan) dan begitu selanjutnya sama dan sampai shafnya terisi penuh.

Diperbolehkannya bergerak secukupnya di dalam shalat (satu atau dua langkah) selama gerakan yang dilakukan itu bertujuan untuk kemaslahatan dan selama tidak berlebih-lebihan.

Misal: kita shalat dikamar dan dekat dengan pintu, lalu ada orang yang mengetuk pintu bermaksud ada keperluan dengan kita, maka bagi orang yang shalat tadi, tidak perlu takut untuk bergerak dalam shalat selama gerakan itu bertujuan untuk kemaslahatan.

Lurus dilihat dari sebelah mana, dan rapat dilihat dari sebelah mana?

lurus dilihat dari depan, dan rapat dilihat dari tumit dengan tumit, dalam penjelasan riwayat lain Betis dengan betis, lengan dengan lengan.

tetapi mempratikkan ini tidak boleh berdesak-desakan dan berlebih-lebihan, yang dapat mengurangi kekhusyukan shalat berjamaah. (misal: untuk tasyahud akhir perlu ruang yang agak longgar)

Jika ada orang yang tidak mau/menghindar saat meluruskan dan merapatkan shaf-nya apa yang bisa kita perbuat, sedangkan kita sudah berikhtiar untuk merapatkannya?

Fatwa Syaikh Bin Baz, kira-kira seperti ini: Jika orang itu (maksudnya orang yang tidak mau/ menghindar tadi) menghindari, boleh menariknya (untuk meluruskan dan merapatkan shaf).

::Bagi orang arab perbuatan menarik dalam rangka untuk meluruskan dan merapatkan shaf itu adalah wujud dari perhatian.

::Bagi orang disekitar kita terutama orang yang masih awam perbuatan menarik dalam rangka untuk meluruskan dan merapatkan shaf itu, bisa malah membuatnya marah dan membuat permusuhan. mungkin sebaiknya dihindari dulu untuk hal itu.

Seseorang yang menarik salah satu jamaah yang ada di shaf depan agar mundur dan berdiri di shaf belakang bersamanya ? 
Contoh Kasus:

Jika shaf pertama sudah penuh, shaf kedua hanya seorang diri. maka kita tidak boleh sendiri di shaf kedua. maka kita mengajak seorang yang ada di shaf pertama.

Bagaimana cara (untuk contoh kasus diatas),

Jika shalat sudah berlangsung maka dianjurkan untuk tidak menarik salah satu jama’ah kebelakang, tapi cukup dia berdiri sendiri jika memang tidak ada tempat lagi, dengan harapan ada jama’ah lain yang menyusul dan bergabung dengannya. Jika ternyata sampai akhir sholat tidak ada jama’ah lain yang bergabung, maka insya Allah sholatnya tetap sah.

Jika shalat akan berlangsung maka dibolehkannya mengajak seorang yang berada di shaf pertama untuk menemani di shaf kedua.

Ada sebagian ulama yang membolehkan perbuatan tersebut, tetapi kalau kita teliti ternyata hadist yang menerangkan hal itu adalah hadist lemah. Hadist tersebut berbunyi :

Dari Ibnu 'Abbas berkata, "Rasulullah bersabda, "Apabila seseorang di antara kamu tidak mendapatkan shaf karena sudah sempurna (penuh), maka hendaklah ia menarik kepadanya seorang laki-laki supaya berdiri di sampingnya." (Hadist Lemah Riwayat Thabrani).

Dari Wabidhah bin Ma'bad ra, "Bahwasanya ada seorang laki-laki shalat sendirian di belakang shaf, maka Nabi saw berkata kepadanya, "Apakah kamu sudah masuk ke dalam shaf atau engkau telah menarik seorang laki-laki untuk shalat bersamamu? Maka ulangilah shalat." (HR. Abu Ya'la dan di dalam sanadnya ada kelemahan )

Referensi:
Terinspirasi Kajian hadits No 68 dan 69 oleh Ustadz Abu Abdirrahman, 13 Februari 2013 di Masjid Al-Hidayah
http://beritamuslimsahih-ahlussunnah.blogspot.com/2012/01/hukum-merapatkan-meluruskan-shaf.html
http://www.flexmedia.co.id/keutamaan-shaf-rapat/
http://kebenaranblogzzz.blogspot.com/2010/11/luruskan-dan-rapatkan-shaf-shaf-kalian.html
http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/237/merapatkan-shof-dalam-sholat/
http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/pentingnya-meluruskan-dan-merapatkan-shaf-ketika-sholat-berjamaah.htm
http://4.bp.blogspot.com/-9udcK-bAWMg/UAQHtIq-_XI/AAAAAAAAAtY/CzSZVvZhA4U/s400/Luruskan+shaf+shalatpresented+by+MasBro+Kpala+Panti+JOSH+%287%29.jpg

Syarah Riyadhush-Shalihin Hadits No 7

Dari Abu Hurairah 'Abdurrahman bin Shakhr radhiallahu 'anhu,
dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi dia melihat hati-hati kalian." 

(HR. Muslim)


@ pengesahan hadits diatas:

Diriwayatkan oleh Muslim (2564/33). Dia meriwayatkan (34) dengan lafadz yang lebih lengkap sebagai berikut:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian."

Seharusnya Imam an-Nawawi rahimahullah, menggunakan hadits yang lebih sempurna agar ahlul irja' yang hidup di zaman ini, yang membatasi iman hanya didalam hati saja tidak tertipu dengan hadits tersebut.

@ Kandungan hadits diatas:
 

Pahala amal perbuatan itu di dasarkan pada apa yang diikuti oleh hati dengan rasa ikhlas dan niat yang tulus.
 

Memperbaiki hati lebih di dahulukan dari pada perbaikan terhadap anggota badan, sebab anggota badan hanya akan mengikuti perintah dan larangan.
oleh karena itu, jika hati itu baik, maka akan baik seluruh tubuh dan jika hati telah rusak pula seluruh tubuh.
 

Seseorang bertanggung jawab dan akan dihisab berdasarkan niat dan amalnya. Oleh karena itu, dia harus benar-benar mengarahkan keduanya ke jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan petunjuk, yang datang dari Allah subhanahu wata'ala dan yang benar berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Referensi:
Terinspirasi Kajian Ust. Aris Munandar ,4 Januari 2013 di Masjid Al-Hidayah
http://books.google.co.id/books?id=1jahZEbE5usC&pg=PA46&lpg=PA46&dq=syarah+riyadhush+shalihin+%2C+hadits+ke+7&source=bl&ots=HQCgEAQhql&sig=ZiKmt8M3u-AwvSQ8rZrN0AnElmE&hl=en&sa=X&ei=WrMPUZKmGIW3rAfMyoC4Cg&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false
http://www.ilawati-apt.com/wp-content/uploads/2012/01/11-formula-ibadah-yang-membawa-kesuksesan.jpg 
http://sadayaonline.com/images/Buku/RiyadhusShalihin_Lengkap.jpg

Kajian Tafsir Surat Yasin ayat 3

Rasulullah dilahirkan pada tahun gajah atau 'Ammul Fil

Kronologi turunnya ayat tersebut (asbab al wurud) bermula pada waktu itu Rasulullah Saw. memikirkan bagaimana caranya supaya orang-orang kufar jahiliah beriman atas risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mayoritas dari mereka lari dan tidak beriman, apalagi sampai mau mengakui risalah Rasulullah Saw. 


Tegas Allah taala menurunkan ayat: 

” Yasiin. Wal Quranul hakim. Innaka Laminal mursalin”, Yasin, demi al Quran yang mulia. Sungguh engkau sebenar-benarnya utusan(rasul). Seakan-akan Allah Swt berfirman: “Andaikata mereka tidak mau mengakui wahai Muhammmad engkau utusanKu Aku yang akan mengakuimu; engkau adalah utusanKu. ‘Engkau sebenar-benar utusan’.

Orang-orang kafir hendak mengatakan kepada rasulullah: La ta'mursala.(Anda Bukan Rasul)


kemudian Allah menurunkan ayat ke-3 dari surat yasin ,Allah berfirman:
Innaka Laminal mursalin [Sungguh engkau sebenar-benarnya utusan(rasul)]

@ Tentang pribadi rasulullah:

Beliau adalah Khuluqil 'Adhim
Beliau adalah Uswatun Hasanah.
ketika berjumpa dengan orang yang lebih tua, senantiasa memuliakan.
ketika berjumpa dengan anak-anak kecil, senantiasa berkasih sayang
Rasulullah adalah orang yang paling berlaku baik terhadap istri dan anaknya,semoga bisa.aamiin
Rasulullah sebagai mertua, suatu ketika antara Ali dan Fathimah terjadi pertikaian dan Rasulullah sebagai mertua tidak kemudian memanas-manasi namun beliau mendamaikannya,melakukan dengan akhlak terbaik.

Kurang lebih ceritanya seperti ini,
Suatu ketika Aisyah mengadukan kepada Fathimah sesuatu,
Aisyah dinikahi ketika beliau perawan, diantara pasangan-pasangan janda yang dinikahi rasulullah.
Hal ini membuat Fathimah tidak nyaman. Fathimah mengatakan Wahai Rasulullah,Ibu Kami, beliau menjelaskan begini (Aisyah dinikahi ketika beliau perawan, diantara pasangan-pasangan janda yang dinikahi rasulullah) .kemudian Rasulullah menjawab pertanyaannya. Jika dia ('Aisyah) bertanya. Bahwa saya (Nabi) menikah dengan khadijah ketika beliau perjaka.


@ Apa kewajiban seorang Muslim kepada Rasul-Nya?

a. membenarkan apa yang di beritakan

Seluruh yang dikabarkan Rasulullah adalah Hak, pasti terjadi.

sebagai contoh,
Hadits tentang tanda-tanda kiamat.
Hadits tentang penyakit Wahn (Cinta dunia dan takut Mati)

b. mentaati apa yang telah menjadi perintahnya

Jangan sampai kemudian, orang tua mengeluhkan anak-anak (muda) sulit diatur, anak-anak tidak bangga atau berat datang ke Masjid .

Jangan sampai kemudian kita meninggalkan suatu generasi yang akan datang, yang mudah sekali meninggalkan shalat

Istri, anak adalah amanah . maka arahkanlah se-dini mungkin dengan hal yang terbaik.



c. meninggalkan apa yang dilarangnya

larangan dan perintah amat banyak .

Dalam perkara yang dilarang, jauhlah dengan sejauh-jauhnya.
Dalam perkara yang diperintahkan,maka lakukanlah semampu kalian.

Mastatha'tum (menurut kesanggupanmu) hanya untuk perkara yang diperintahkan ,bukan dalam perkara larangan.

Agar selamat dari zina :

- Berpakaian yang baik-menutup aurat dan Ghadhul Bashar atau menjaga pandangan (Baca Q.S. An-Nur :30-31)
- Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu mendayu- dayu dalam berbicara sehingga orang yang mendengarkan ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik (Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 32)

d. Beribadah hanya kepada Allah, dengan tidak mempersekutukan-Nya


'Islam tidaklah perlu tambahan dan kurang sedikitpun, karena Islam ini sempurna membahas seluruh Aspek kehidupan'

@ Teguran Allah pada Surat 'Abasa

(1). Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,
(2). Karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum)

Asbabun nuzul dari ayat pertama surat 'Abasa adalah ketika Rasulullah sedang menghadapi pembesar-pembesar dari kaum Quraisy dan beliau sangat mengharapkan agar mereka dapat masuk Islam. Namun ketika itu datanglah seorang yang buta bernama Abdulah Ibnu Ummi Maktum. Abdullah bin Ummi Maktum ketika itu ingin meminta diajari tentang ajaran Islam.

Hal ini dijelaskan pada ayat kedua: 2. Pada ketika itu Rasulullah Saw. Tampak bermuka masam dan berpalling. Namun Allah Swt. Segera menegurnya dengan mewahyukan surah ‘abasa ayat satu s/d sebelas.

@ Hikmah yang bisa dipetik adalah:

Allah Swt. Segera menegur Rasulullah , ketika kemudian Rasulullah berwajah masam dan berpaling kepada seorang buta Abdullah bin Ummi Maktum.


Dalam sebuah Hadits, suatu ketika Abdullah Ibnu Ummi Maktum pernah datang menghadap Rasulullah Saw, guna menanyakan perihal bolehkah ia tidak pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat dikarrenakan kecacatannya. Rasulullah Saw menjawab, “Boleh.” Namun ketika dia telah berlalu, Rasulullah Saw memanggil Abdullah Ibnu Umi Maktum kembali kemudian bertanya kepadanya, “apakah terdengar olehmu kumandang suara adzan?”, kemudian Abdullah Ibnu Umi Maktumpun menjawab, “iya ya Rasululah saya mendengarnya.” Nabipun bersabda “kamu harus pergi untuk menjalankan shalat di masjid.”

kontekskan dengan realitas saat ini, maka bukan hanya dalam pendidikan agama Islam saja orang-orang cacat berhak mendapat kesetaraan dalam menikmati pendidikan agama Islam, tetapi juga dalam pendidikan secara umum. Namun jika kita melihat realitas yang terjadi saat ini

Secara eksplisit dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa tidak ada diskriminasi kepada kelompok-kelompok tertentu.

pendidikann pada umumnya dan pendidikan agama pada khususnya itu bukanlah untuk kelompok-kelompok tertentu.
 

Sumber:
Terinspirasi Kajian di Masjid Al-Hidayah, 3 Februari 2013 oleh Ust. Abdus Salam.
http://www.habiblutfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=57%3Akesaksian-allah-swt-atas-risalah-dan-keistimewaan-nabi-muhammad-saw&catid=37%3Aartikel&Itemid=30&lang=ar

http://fidi.mywapblog.com/teguran-allah-dalam-surah-abasa.xhtml
http://kasino.heck.in/13-aurat-seorang-wanita.xhtml
 



 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes