Selamat datang di website kami, Haidar Khotir, semoga sajian kami bermanfaat

Pesan - Pesan Al-Qur'an Bagi Kita


Diantaranya :

1.    Pesan bagi yang sedang belajar membaca Al-Qur'an

       a.     Niatkan ikhlas karena Allah dan meraih ridha-Nya

       b.     Belajarlah membaca Al-Qur'an kepada Ahli Qur'an yang benar mengerti dan mencontohkan dengan benar mengenai makhraj dan sifatnya huruf, Ghunnah/Bacaan dengung, Mad/Bacaan panjang, Qolqolah, Tafkhim/Tebal atau Tarqiq/Tipis, Waqof baik tempat waqof maupun cara membaca ketika waqof, serta Ghorib. Selain itu juga pernah di check bacaannya oleh guru yang ahli qur'an sebanyak 30 juz. Dan alangkah lebih baik bila bersanad.

2.    Pesan bagi pengajar Al-Qur'an

Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain” (Al-Hadits)

a.    Niatkan ikhlas baik ada pengawasan atau tidak maka melakukan pengajaran pun sebaik mungkin.
b.    Niatkan meraih ridho Allah dan Istiqomah
c.    Niat yang baik yakni Nasyrul 'Ilmi dan Ta'awun.
d.    Teruslah belajar dengan guru

3.    Pesan bagi pengajar dan yang diajarkan Al-Qur'an

Kalian adalah sebaik-baik manusia.

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

4.    Pesan bagi diri kita

       a.    Bacalah Al-Qur'an dengan tartil

“Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.”. (Q.S. Al-Muzammil : 4)

        b.    Hendaklah kita mengkhatamkan Al-Qur'an setidaknya 2 kali dalam setahun untuk memenuhi haknya

“Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.”

(HR. Bukhari no. 4998).

Al-Hasan bin Ziyad meriwayatkan dari Abu Hanifah, bahwa dia berkata,

“Siapa yang mengkhatamkan Al Qur’an dua kali dalam setahun, berarti dia telah memenuhi hak Al-Qur’an. Sebab Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca di hadapan Jibril dua kali pada tahun terakhir dari kehidupan beliau.”

5.    Pesan bagi penghuni rumah dan bagi Keluarga

Perbanyaklah baca Al-Qur'an di rumah kalian, rumah yag tidak pernah dibaca Al-Qur'an maka sedikit kebaikannya dan banyak kejelekannya dan akan disempitkan penduduk rumah itu (maksudnya rizkinya disempitkan)

Diriwayatkan oleh At-Tabrani dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Didiklah anak-anakmu atas tiga hal; mencintai nabimu, mencintai ahli baitnya dan membaca al-Qur’an, karena orang mengamalkan al-Qur’an nanti akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tiada naungan kecuali dari-Nya bersama para nabi dan orang-orang yang suci”
sdf

Referensi :
Terinspirasi oleh acara "Bimbingan Muqri' (Pengajar) Yanbu'a, Senin 26 November 2018 di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta oleh KH. M. Ulil Albab Arwani"
www.nu.or.id
https://kautsaramru.wordpress.com/
https://www.syahida.com/
Dan lain-lain
Sumber gambar : bangkitmedia.com

Fadhilah Al-Qur'an


Diantara fadhilah Al-Qur’an ialah :

1.    Al-Qur’an adalah kitab yang paling utama, kitab yang paling agung.

Jika kita bandingkan dengan apapun maka Al-Qur’an adalah yang paling utama. Sebagai contoh : Kita bandingkan lebih baik mana berinteraksi dengan Al-Qur’an atau berinteraksi dengan televisi ?.Tentu al-qur’an paling utama dan terbaik.

Ketika kita kemana-mana membawa Al-Qur’an dan kita membaca ataupun menghafal ataupun menghayati isinya maka itu menandakan kita cerdas, cerdas memanfaatkan waktu dan cerdas didalam beramal. Pastilah Al-Qur’an akan membawa kebaikan-kebaikan.

Al Hasan al Bashri, berkata :
“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al-Qur’an adalah surat-surat dari Rabb mereka. Pada malam hari, mereka selalu merenunginya dan akan berusaha mencarinya pada siang hari.”  (At Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, Imam An Nawawi, Halaman 28).

“Barangsiapa berkehendak berbicara dengan Allah, maka bacalah Al-Qur’an.” (Al-Hadits).

2.    Mukjizat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang paling Agung

Sesungguhnya mukjizat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam itu sangat banyak dan agung-agung. Diantara mukjizat itulah Al-Qur’an adalah yang paling agung. Mumpung Al-Qur’an masih ada maka kita mensyukurinya dengan membaca, menghafalkan maupun mengamalkannya.

3.    Al – Qur’an menjadikan hidup bahagia

Bila menginginkan kehidupan orang yang bahagia baik di dunia maupun akhirat maka bacalah Al-Qur’an dan mengamalkan isinya.

4.    Al – Qur’an menjadi penolong di hari kiamat

Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : ”Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafa’at (penolong) bagi orang yang membacanya dan mentaatinya.” (HR. Muslim no. 804).

Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Selain Rasulllah saw, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari hisab, kecuali Al-Qur’an yang dibaca selama ia hidup di dunia.

5.    Al – Qur’an sebagai pembersih hati

Hati bisa berkarat sebagaimana besi. Bagaiman cara menghilangkan hati yang berkarat ? Caranya yaitu dengan membaca Al-Qur’an dan juga mengingat mati. Hati kita berkarat karena banyak dosa dan banyak melupakan Allah dari berdzikir kepada Allah.

Tentu ini bisa sebagai penanda bahwasanya :

“Bila hati bersih maka yang disenangi itu adalah yang baik-baik. Bila hati kotor maka yang disenangi itu adalah yang jelek-jelek.”

'Utsman Bin 'Affan radhiyallahu 'anhu berkata,

"Seandainya hati kalian bersih, pastilah (hati tersebut) tidak kenyang dengan firman Allah (Al-Qur'an)."

Referensi :
Terinspirasi oleh acara "Bimbingan Muqri' (Pengajar) Yanbu'a, Senin 26 November 2018 di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta oleh KH. M. Ulil Albab Arwani"
www.al-manhaj.or.id
www.madinalmanshur.wordpress.com
https://musyafa.com/
http://keluargaumarfauzi.blogspot.com
Sumber gambar : http://sqlccintaquran.blogspot.com

Tanda Diterimanya Amal


"Dan segala sesuatu sudah Kami catat dalam suatu kitab." (QS. An-Naba [78] :29)

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menghitung dengan sangat detail. Dan setiap amal yang kita lakukan akan dicatat oleh Raqib dan Atid.

Ada dua kemungkinan mengenai diterima atau tidak diterimanya amal :

  • Amalnya orang-orang yang bertakwa, maka Allah menerima amal mereka,
  • Amal seseorang yang tidak berbobot atau tidak bermutu atau tidak bernilai sehingga amalnya tidak diterima dikarenakan amalnya dirasuki oleh penyakit riya' dan ujub, tidak ikhlas lillahi ta'ala.
Kita perlu khawatir apakah amal-amal kita diterima atau tidak ?. Amal-amal kita bernilai disisi Allah atau tidak ?

Kita hendaklah memahami dan mengenali tanda suatu amal itu diterima oleh Allah.

"Barangsiapa yang mendapati buah dari amalnya pada saat ini, maka itu petunjuk indikator atas diterimanya amal di hari akhir."

Bila kita bisa rasakan buah dari amal kita saat ini maka itu tanda dari salah satu tanda diterimanya amal.

Tanda-tanda amal diterima :
  • Buahnya amal yang dirasakan di dunia. Ketika seseorang bisa merasakan nikmatnya amal sebelum ia melakukan amal.
  • Sebelum beramal seseorang sudah senang atau rasa senang di hati terlebih dahulu.
  • Suka menunggu-nunggu (Contoh : seseorang yang suka menunggu-nunggu waktu shalat dan segera menuju ke Masjid)
  • Ada kelapangan hati untuk beramal
  • Merakan manisnya di hati ketika beramal sehingga seseorang merasa senang melakukan amal, dan ini mengindikasikan hati yang ikhlas dan tidak terpengaruh kata orang yang buruk kepadanya selama seseorang melakukan amal shalih.
Referensi :
Kajian Nurul Ashri
https://www.tokopedia.com/tigaserangkai/saudaraku-sudahkah-beramal-shalih-hari-ini

Keutamaan Membaca Al-Qur'an


Ketika kita membaca Al-Qur'an. tiap hurufnya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatkan (dikali) sepuluh.

Contoh : 

Didalam surat Al-Fatihah ada 122 huruf  maka di tulis bagi Anda 122 kebaikan x 10 =1220 kebaikan

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur'an, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata : Alif Laam Miim, satu huruf. akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf  dan miim satu huruf." 
(HR. At-Tirmidzi)

Sumber :  
https://i.pinimg.com/600x315/50/7d/e0/507de01105fe1459ece2101acc84d3be.jpg
1 Menit Menggapai Surga 

Memahami Islam, Iman, dan Ihsan

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : 
“ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “
kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda:  
“ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “,
kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda:  
“ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” .
Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  
“ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, 
kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)
Penjelasan Hadits Arbain 2 :

1. Menjelaskan tentang akhlak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang mulia. Beliau mau duduk bersama para sahabat bukan menyendiri dan melihat yang lain dari tempat tinggi.

2. Murid-murid boleh duduk bersama guru atau siapapun yang tingkatannya lebih tinggi, Namun dengan catatan tidak membuang-buang waktu si guru atau orang yang lebih tinggi tingkatannya.

3. Para malaikat bisa berubah wujud ke bentuk lain, karena Jibril mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam bentuk seorang lelaki (pemuda belia).

4. Sopan terhadap guru seperti yang dilakukan Jibril 'alaihissalamyaitu duduk di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan sopan untuk menimba ilmu dari beliau.

5. Hadits tersebut dalam format tanya jawab, cara ini lebih mengena dan lebih kuat pengaruhnya di hati.

6. Menerangkan mengenai rukun Islam, Iman dan Ihsan.

7. Beralih dari yang lebih rendah ke tingkatan yang lebih tinggi, Jika dikaitkan dengan Iman, Islam masih dibawahnya. Jika dikaitkan dengan Ihsan, Iman masih dibawahnya.

8. Menurut etimologi, iman artinya pengakuan yang mengharuskan untuk menerima dan tunduk, dan harus disesuaikan dengan aturan syariat.

9. Ihsan adalah bentuk mashdar dari kata kerja ahsana yuhsinu, yaitu : mencurahkan segala kebaikan bagi sang Khaliq, tercermin dalam keikhlasan dalam beribadah dan mengikuti sunnah Rasulullah.

10. Ihsan terbagi menjadi dua tingkatan, yaitu : tingkat permohonan dan tongkat melarikan diri dari siksa dan azab-Nya.

11. Tingkatan memohon adalah tingkatan menyembah Allah seolah-olah anda melihat-Nya. Tingkatan melarikan diri dari siksa dan azab-Nya adalah menyembah Allah sementara Dia melihat Anda, sehingga Anda mawas diri, seperti yang Allah sampaikan,

"Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa-Nya)" (QS. Ali-'Imran [3] : 30)

12. Menerangkan sebagian tanda-tanda hari kiamat yakni  Budak wanita melahirkan tuannya dan fenomena berlomba-lomba meninggikan bangunan."

13. Tanda-tanda kiamat terbagi menjadi 3, yakni Tanda-tanda yang telah berlalu dan berakhir, tanda-tanda yang masih saja terjadi, tanda-tanda besar menjelang kiamat."

Sumber :
http://www.muslimgreeting.com
https://haditsarbain.wordpress.com

Ibadah Semalam Lebih Utama daripada 1000 Bulan


Ibadah Semalam Lebih Utama daripada 1000 Bulan. 

1000 Bulan = 30.000 Malam = Sekitar 83 Tahun Lebih 4 Bulan

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?.Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadar [97] : 1-3)

Pahala ibadah pada malam qodr dijelaskan dalam hadits:

"Barangsiapa yang mendirikan (qaama) lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kata qaama ("mendirikan") pada hadits di atas dapat diwujudkan dalam bentuk shalat, berdzikir, berdo’a, membaca al-Qur-an dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Sumber : 
http://www.risalahislam.com
http://legacy.quran.com/
https://www.satujam.com

Menggapai Keikhlasan



Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .
Pelajaran yang terdapat dalam Hadits tersebut:

1. Amalan itu mencakup amalan hati, amalan lisan, dan amalan anggota badan.

Amalan hati adalah semua amal yang ada di hati, seperti : bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, takut pada-Nya dan sebagainya.

Amalan lisan adalah amalan berupa ucapan lisan, dan banyak sekali jenisnya. Diantara seluruh anggota badan, lisanlah yang paling banyak amalannya. Kecuali mata atau telinga.

Amalan anggota badan adalah amalan tangan, kaki dan lainnya.

2. Menurut Terminologi, niat adalah tekad untuk melakukan suatu ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah. Niat adanya di hati, dan termasuk amalan hati, tidak ada sangkut pautnya dengan anggota badan.

3. Hendaklah seseorang melakukan amalan dengan ikhlas, hanya menginginkan pahala Allah dan surga dan sesuai tuntunan syariat.

4. Tujuan dari niat adalah untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain, seperti mana ibadah yang sunnah dan mana ibadah yang wajib, atau untuk membedakan mana ibadah dan mana kebiasaan semata. 
 
Sumber : 
https://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09/hadits-1-ikhlas/
http://islamidia.com/wp-content/uploads/2016/09/Niat-dan-Keutamaan-Puasa-Dzulhijjah.jpg

Meraih Cinta Allah, Meraih Cinta Manusia


“Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.”

(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan) .

Dari hadits ini bisa diambil pelajaran bahwasanya,

Zuhud ialah meninggalkan sesuatu perkara yang tidak bermanfaat untuk akhirat.

Zuhud terhadap dunia maksudnya ialah ketika kita berbuat kita bukan demi mendapatkan nilai duniawi tetapi semata-mata lillah. Sehingga sama saja baginya manakala mendapat pujian dan manakala mendapat celaan.

Zuhud terhadap apa yang ada pada manusia maksudnya ialah ketika kita berbuat tidak ada didalam hati kita keinginan dari perhatian terhadap sesuatu yang menjadi milik orang lain.

Bila seseorang tidak Zuhud maka ada kecenderungan menginginkan sanjungan seseorang dan pujian seseorang serta menginginkan pemberian orang lain dan inilah ulah tangan syaitan.

Kisah bujuk rayu syaitan kepada Adam dan Hawa,

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".” (QS. Al-A’raf : 20)

“Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya". Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thaha : 117 - 121)

Rumus mencintai secara umum,

“Cintailah apa yang dicintai oleh yang kita cintai.”

Zuhud terhadap dunia menyebabkan datangnya cinta Allah, dan cinta Allah yang hanya dapat diraih dengan menunaikan hak-haknya.

Zuhud terhadap apa yang ada pada manusia menyebabkan datangnya cinta manusia yang hanya dapat diraih dengan menunaikan hak-hak manusia dan memperlakukan mereka secara adil dan baik.

Apabila kita bisa merealisasikan sikap atau perilaku zuhud dengan pengertian diatas maka kita akan meraih cinta Allah dan cinta manusia.

Referensi :
Kajian di Darush Shalihat, 
sumber gambar : http://youthproactive.com/wp-content/uploads/2014/02/Kata-Cinta.jpg

Beberapa Kesalahan dalam Shalat


Shalat adalah kewajiban sehari-hari dan shalat adalah tiang agama, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Baihaqi,
“Shalat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu,” (HR.Baihaqi).
Didalam shalat ada beberapa hal yang merusak, makruh, mengganggu dan bahkan bisa membatalkan diantaranya :
1. Tidak mengkondisikan sesuatu seperti anak-anak atau HP, dsb ketika hendak shalat sehingga bisa mengganggu ke khusyu’-an.
2. Larangan untuk berkaca pinggang
3. Mengangkat pandangan ke langit
4. Menengok tanpa adanya kepentingan
5. Memandang dan melihat kepada sesuatu yang mengganggu shalat kita
6. Memanjangkan kain dibawah mata kaki (bagi laki-laki)
7. Menutup mulut dengan sesuatu (dimakruhkan). Ketika hendak menguap maka ditahan dekuat-kuatnya atau menutup mulutnya.
8. Meludah ke arah kiblat atau ke kanan (ke arah kiri dibawah kaki kirinya)
9.Dilarang mencengkeram tangan
10.Menyingkirkan rambut atau pakaian
11.Makruh mendahulukan dua lutut diatas tangannya. Pandangan yang lain, tidak mengapa (perbedaan pendapat saja, mana yang didahulukan apakah dua lutut atau dua tangan ?)
12. Memanjangkan tangan ketika sujud seperti duduknya seekor anjing
13. Shalat ketika makanan tersedia. Namun bila mepet dan waktu shalat bisa habis karena makan maka shalat lebih didahulukan.
14. Makruh menahan dua kotoran, yakni makruh menahan untuk buang air kecil ataupun buang air besar.
15. Mendahului imam
16. Mengunci mulut dan tidak menggerakan lisan untuk shalat
17. Memejamkan mata ketika shalat (makruh)
18. Duduk ketika shalat padahal dia mampu untuk berdiri (berlaku untuk shalat wajib). Manakala shalat sunnah tidaklah mengapa. Namun pahala orang duduk ketika shalat ialah separuh dengan orang yang berdiri.
19. Orang sakit meninggalkan shalat sampai sembuh
20 Tidak menahan menguap
21. Menutup mulut (tanpa sebab) atau wajah ketika shalat
22. Puasa (misalnya puasa ramadhan) namun meninggalkan shalat
23. Membaca dzikir ketika shalat
24. Meninggalkan bacaan ta’awudz dan basmalah ketika shalat
25. Takbiratul ihram namun dalam keadaan rukuk
26. Menambahi kata ‘azza wajalla
27. Mendahului Imam shalat dalam takbiratul ihram
28. Bersandar ke dinding atau posisi diam ketika waktu shalat
29. Mengangkat kepala saat mengucapkan aamiin
30. Meliuk-liukan kalimat aamiin
31. Tidak membersamai imam waktu mengucapkan aamiin, dan beberapa imam tidak membaca aamiin ketika shalat
32. Menambahkan ucapan aamiin dengan wali walidayyawalil muslimin, kalimat ini tidak perlu diucapkan.
33. Membaca dibelakang imam saat shalat jahriyyah (jadi kita tidak perlu membaca, cukup mendengarkan bila imam menjahr-kan)
34. Bergoyang-goyang ketika shalat
35. Berpaling ke kanan dan kekiri ketika shalat
36. Berdehem saat shalat
37. Menunjuk tangan ke atas saat menunjuk nama Allah ketika shalat
38. Tidak menyempurnakan shaff
39. Terkadang imam terbalik susunan surat ketika membaca surat ketika shalat. Namun, ada yang tidak mempermasalahkan
40. Membaca dengan keras waktu shalat sunnah. kecuali Qiyyamul lail.
41. Tidak mengikuti imam
42. Ketika Imam shalat berjama’ah kita mengeraskan takbiratul ihram kita, maka itu mengganggu atau mengacaukan.
43. Tidak tuma’ninah waktu rukuk dan sujud
44.Melihat kedua kaki ketika rukuk
45. Membaca al-Qur’an saat rukuk atau sujud
46. Ketika membaca membaca surat langsung dan tidak ada jeda kemudian rukuk, yang benar ialah diam sejenak atau ada jeda kemudian rukuk.
47. Tidak sujud diatas tujuh anggota tubuh.
48. Meninggalkan doa waktu rukuk dan sujud
49. Meninggalkan doa waktu duduk diantara dua sujud.
Referensi :
Kajian I’tikaf, Kajian Dhuha di Masjid UII Yogyakarta.

Indahnya Birrul walidain


“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Terserah maumu, apakah engkau menyia-nyiakan pintu itu atau memeliharanya.” (Al-Hadîts)

Orang tua adalah permata mulia yang dapat mengantarkan seseorang menuju surga, jika ia berbakti kepada keduanya. Namun orang tua juga bisa menjadi ‘pintu neraka’ bagi seorang anak yang berbuat durhaka kepada keduanya. Orang yang berakal tentu akan memilih ‘menjemput’ surga dengan bakti orang tua.

A. Birrul walidain ialah berbuat baik kepada kedua orang tua dan ini merupakan fitrah manusia, hewan saja yang ia tidak memiliki akal mereka mengakui orang tuanya dan bila kita durhaka kepada orang tua maka kita lebih rendah dibanding hewan. Terutama ibu kita karena rasulullah mengulangnya hingga 3x dibanding ayah terhadap yang siapa yang paling di utamakan.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

B. Birrul walidain adalah sesuatu yang lebih utama dibanding berjihad bila orang tua tidak mengizinkan dan meminta kita untuk menemani dan merawatnya.

Dari Abu Abdirrahman yaitu Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: Saya bertanya kepada Nabi s.a.w.: "Manakah amalan yang lebih tercinta disisi Allah?". Beliau menjawab: "Yaitu shalat tepat waktunya."
Saya bertanya pula: "Kemudian apakah?". Beliau menjawab: "Berbakti kepada orang tua."
Saya bertanya pula: "Kemudian apakah?". Beliau menjawab: "Yaitu berjihad fisabilillah.". (Muttafaq 'alaih)

Seorang lelaki datang kepada Rasululloh kemudian berkata:" wahai Rasululloh, aku ingin berperang, aku mendatangimu untuk meminta pendapatmu." Rasul berkata : " apakah engkau masih mempunyai ibu ?" lelaki tersebut menjawab : " iya." Rasul berkata : " jangan tingalkan ibumu, karena sesungguhnya syurga berada di kakinya." dalam riwayat yg lain , " apakah engkau masih mempunyai kedua orang tua?". aku berkata : " iya." Rasul berkata : " jangan kau tingalkan keduanya karena sesungguhnya syurga dibawah kaki keduanya.". (HR. ibnu majjah, an nasa'i dan al hakim)

C. Birrul walidain, Taat kepada Orang tua selagi bukan untuk bermaksiat kepada Allah dan pergauilah dengan baik dan begitu juga masyarakat dia taat kepada pemimpin selagi tidak bermaksiat kepada Allah dan tidak menyalahi wewenang.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman [31] : 14 - 15)

D. Birrul walidain, Bila engkau adalah seorang laki-laki dan engkau sudah menikah. maka engkau hendaknya taat kepada orang tua dan istrimu taat kepadamu.

Hadits Imam Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim yang menshahihkannya, dari Aisyah r.a. berkata:
“Aku bertanya kepada Nabi Muhammad saw., siapakah manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya.” “Kalau atas laki-laki?” Jawabnya, “Ibunya.”
Demikian juga yang diriwayatkan Al-Hakim dan Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ada seorang wanita yang bertanya:
“Ya Rasulallah, sesungguhnya anak laki-lakiku ini, perutku pernah menjadi tempatnya, air susuku pernah menjadi minumannya, pangkuanku pernah menjadi pelipurnya. Dan sesungguhnya ayahnya menceraikanku, dan hendak mencabutnya dariku.” Rasulullah saw. bersabda, “Kamu lebih berhak daripada ayahnya, selama kamu belum menikah.”

E. Birrul walidain, Bila engkau adalah seorang suami maka nafkah yang utama dahulukan adalah untuk orang tua dan keluarganya (istri dan anaknya) kemudian kerabat, dsb.

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah [2] : 215) 

‘’Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).’’ (HR. Muslim 2137).

F. Birrul walidain, Bila hanya saja kita mengatakan ah atau sejenis itu atau kita memalingkan muka karena tidak suka, atau sejenis itu atau kita meninggikan suara dan dari salah satu itu kita lakukan maka itu sudah menuju ke durhaka kepada orang tua. menyakitinya. Dan bila kepada orang tua hindarkanlah untuk mengeluh dan berikanlah kabar gembira. ini semua akan kita pahami jika kita sudah menjadi orang tua.

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24).

G. Birrul walidain, Bila seseorang semisal orang tuanya sudah meninggal maka ia wajib berbuat baik kepada kerabat dari pihak ibu dan pihak bapak dan bersilaturahim. Bedakan antara silaturahim dan silat ukhuwah ? mana yang lebih utama.

“Bentuk kebaktian kepada orang tua yang paling tinggi, menyambung hubungan dengan orang yang dicintai bapaknya, setelah ayahnya meninggal.” (HR. Muslim no. 2552)

Hal ini merupakan salah satu bentuk berbakti kepada orang tua yang tingkatannya sangat tinggi adalah menjaga hubungan silaturahmi dengan semua keluarga yang masih kerabat dengan orang tua kita dan orang-orang yang menjadi teman dekat orang tua.

H. Birrul walidain, hendaknya kita mendoakan orang tua dalam ibadah-ibadah kita dan setiap selesai shalat.

I. Birrul walidain, birrul walidain senantiasa disandingkan dengan taat kepada Allah dan taat kepada ulil amri dan juga keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua dan bersyukur kepada Allah disandingkan dengan bersyukur kepada orang tua.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Ridha Rabb terletak pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya.” (Riwayat Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

J. Birrul walidain, beliau orang tua kita senantiasa memuliakan kita hingga saat ini maka muliakan dia sampai akhir hidupnya.

K. Birrul walidain, bila suami memberi nafkah kepada orang tua dan istrinya maka dengan taatnya istri kepada suaminya selama tidak untuk bermaksiat kepada Allah maka dapat menjadi wasilah masuk surga bagi orang tua istri.

Referensi :
Dari berbagai sumber.
https://hannikasim.files.wordpress.com/2009/06/redrose3.jpg

Memaknai Ujian Hidup

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al-Mulk [67] : 2)

Setiap kita sejatinya akan menghadapi ujian di dalam hidup. Ujian hidup adalah suatu keniscayaan bagi makhluk. Allah subhanahu wata’ala menguji hamba-Nya sebagai ujian pembuktian iman seseorang.

Sebagaimana Allah berfirman,

“Alif laam miim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?, Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut [29] : 1 - 3)

Ujian ataupun musibah dari ujian itu memiliki beberapa tipe dan itu bergantung bagaimana seseorang didalam menyikapinya,

1. Ujian dikatakan sebagai azab, dikatakan demikian manakala seseorang senantiasa berbuat maksiat dan hati orang yang mengalami ujian itu terasa sempit dan berburuk sangka kepada Allah.

2. Ujian dikatakan sebagai tadzkirah atau peringatan, dikatakan demikian manakala seseorang senantiasa menunda-nunda diri taubat dan Allah subhanahu wata’ala memberikan peringatan untuk kembali kepada-Nya dan taat dan hati masih ada sakit dan seseorang tersebut tidak berburuk sangka kepada Allah.

3. Ujian dikatakan sebagai pengangkat derajat seseorang, dikatakan manakala seseorang berprasangka baik kepada Allah dan bisa mengambil pelajaran dan hatinya lapang dan menjadikan sebagai sarana untuk mengangkat derajat keimanan seseorang.

Bagaimanakah watak asli dari manusia ? sejatinya watak asli manusia ialah menerima dan manakala manusia menghadapi musibah maupun ujian kemudian dia menerimanya maka hati dan jiwa akan tenang, tentram dan lapang. contohnya : ketika kita dihina bila hati menerima dengan hati yang menolak mana yang lebih membuat bahagia ? tentu hati yang menerima dan memaafkan.

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain, (QS. Thaha [20] : 55)

Kalau kita memahami bahwasanya manusia itu asalnya dari tanah. Kita tahu tanah itu senantiasa dibawah artinya tanah itu senantiasa memiliki watak menerima. Tanah itu mau dibor, ditancap, atau dibajak atau ditanami sesuatu atau diinjak ia senantiasa menerima.

Jadi, ujian atau persoalan hidup mungkin bisa sama namun bisa jadi dua orang atau tiga orang yang mengalami ujian yang sama itu menyikapinya berbeda. Mungkin ada yang menyikapinya seperti gelas plastik manakala di jatuhkan dia tidak akan pecah, dan ada yang menyikapinya seperti gelas kaca manakala dijatuhkan dia akan mudah pecah. 

Referensi : Khutbah Jum’at bersama Ust. Drs. Syatori Abdurrauf, 9 Oktober 2015  
http://image.slidesharecdn.com/dibalikujianadaberkah-130617211020-phpapp02/95/di-balik-ujian-ada-berkah-by-asep-supriatna-asepfakhri-7-638.jpg?cb=1371503563

Pluralisme Agama dan Multikulturalisme


Bahasan ini bermanfaat bagi kita untuk mewaspadai, menghindari serta menjauhkan diri dari paham pluralisme yang berkaitan dengan agama. Paham pluralisme dan multikulturalisme sejatinya membahayakan keimanan dan nilai-nilai Tauhid. Pluralis atau keberagaman itu tidaklah masalah, hal ini akan menjadi masalah dan membahayakan manakala menjadi pluralisme, dan lebih membahayakan lagi bila menjadi pluralisme agama yang lahir dari doktrin pluralisme.

Pluralisme,
 
Isme ialah paham atau atau cara memandang segala sesuatu berdasarkan hal itu. Terkait pluralisme disini, pastinya asing dalam agama islam. Karena dalam agama islam jelas disebut dengan aqidah, jelas datangnya dari Al-Quran dan Hadits. Pluralisme itu sendiri lahir dari posmodernisme, yaitu mengenai relativitas kebenaran, yang, anti agama. Karena pada dekade terakhir ini menyatu dengan agama, maka disebutlah pluralisme agama.

Pluralisme adalah perpanjang tanganan dari sekulerime-liberalisme yang gagal. Pluralisme itu sendiri terbagi nenjadi dua. Pertama yang dicetuskan oleh John Hick dan Schuon. Menurut John Hick, pemusatan agama, menuju pemusatan tuhan. Sehingga, agama-agama yang berbeda harus menjadi satu.

Dengan kata lain Pluralisme itu suatu pintu pemikiran yang sangat percaya pada God spot. Pintu-pintu pemikiran akan pluralisme ini masuk pada ranah-ranah seperti ranah intelektual, ranah kegoncangan spiritual, dan juga ranah scientific.

Menurut John Hick, pemusatan agama, menuju pemusatan tuhan. Sehingga, agama-agama yang berbeda harus menjadi satu. Perbedaan-perbedaan agama yang kemudian muncul saat ini, menurut John Hick, hanya disebabkan oleh pengalaman spiritual yang berbeda. Namun pada hakikatnya berpusat atau menuju kepada tuhan yang sama. Kebenaran itu plural, tidak tunggal. Hal inilah yang juga kemudian mendorong Hick untuk mencetuskan teori global di mana merupakan suatu wadah yang menurut Hick adalah suatu hal yang realistis yang dapat merangkul semua agama-agama.

Sedangkan Schuon membagi pendapatnya mengenai pluralisme agama ke dalam dua hal. Pertama secara eksternal, dan yang kedua secara batin. Secara eksternal, adalah apa-apa yang terlihat seperti misalnya ritual peribadatan. Hanya pada tahap ini yang kemudian berbeda, sedangkan pada konsep batin, hampir sama dengan Hick, bahwa pada dasarnya juga menurut Schuon, menuju kepada titik yang sama.

Pluralisme memiliki dua wajah yakni toleransi dimana masing-masing agama, ras, suku dan kepercayaan berpegang pada prinsip masing-masing dan menghormati prinsip dan kepercayaan orang lain. Toleransi diperbolehkan, namun yang kemudian menjadi  tidak tepat adalah toleran tanpa batas hingga terkesan tidak memiliki pijakan. Wajah yang kedua dari pluralisme ialah relativisme kebenaran artinya sudah tidak berpegang dengan dasar apapun dan Masyarakat harus menerima kenyataan bahwa di sana tidak ada kebenaran tunggal (mutlak), artinya semua benar, atau bisa dikatakan pula masyarakat tidak boleh memiliki keyakinan bahwa agama dan kepercayaan mereka itu benar atau paling benar. Bahkan, dalam satu pengertian, Pluralisme mengajarkan bahwa sebenarnya kebenaran itu tidak ada.

Pluralisme berusaha masuk ke Indonesia dan menunjukkan wajah manisnya serta membawa proyek-proyek toleransi dan kerukunan hidup namun juga  terdapat proyek terselubung untuk menyamakan semua agama, yang berujung pada relativitas kebenaran, sampai akhirnya dapat dikatakan, proyek terminasi agama-agama dari skeptisisme, hingga dapat melenyapkan agama-agama.

Oleh karena itu Doktrin atau paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan hukumnya haram sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) no. 7 tahun 2005.

Pandangan agama-agama samawi terkait pluralisme agama,

Agama Katolik menyatakan kalau pluralisme agama-agama tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama Katolik. Mereka menolak pluralisme berdasar dekrit dominic Jesus tahun 2000, karena bagi mereka Jesus Kristuslah satu-satunya pengantar keselamatan.

Agama Protestan, juga sama menolak karena bagi mereka, pluralisme agama dapat memudarkan keislaman terhadap agama yang diyakini.

Sama halnya dengan agama Hindu, dalam agama Hindu, terdapat ajaran yoga, di mana hal tersebut tidak terdapat dalam ajaran agama lain. Sehingga jelas bagi mereka, agama Hindu tidak dapat disamakan dengan agama lain. Walaupun ada yang menyebut agama Hindu itu pluralis, akan tetapi hal tersebut pada hakikatnya hanya terrdapat di dalam kehidupan agama Hindu, sedang tidak di luar.

Dan bagi agama Islam, agama islam pun sama menolak adanya pluralisme agama karena berdasar quran surat Ali-Imran ayat 19 yang artinya Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam, Allah mengutus rasul dan menyuruh kita berdakwah. Dengan adanya pluralisme otomatis akan menghapus perintah berdakwah sekaligus menghapus superioritas islam atas agama yang lain sesuai quran surat Ali-Imran ayat 19 tersebut di atas.

Multikulturalisme,

Secara sederhana, multikulturalisme ialah suatu paham atau konsep dimana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui keberagaman, perbedaan dan kemajemukan budaya, baik ras, suku, etnis dan agama (Ngainun, Pendidikan Multikultural ; Konsep dan Aplikasi, hal 126).

Jika wacana multikulturalisme yang mengajarkan kepada sseseorang maupun siswa untuk menghargai keberagaman suku, ras, etnis, agama. Maka sesungguhnya Islam sudah mengajarkannya dan mempraktikannya sejak ribuan tahun lalu, sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi, Problem ini muncul manakala muncul wacana yang kemudian dimasuki paham-paham asing, diantaranya pluralisme agama, relativisme kebenaran, humanisme sekuler. Bila sudah dimasuki oleh paham-paham asing maka multikulturalisme ini dapat merusak aqidah umat Islam, merusak moral/adab, merusak pemahaman tentang agama Islam, hal yang demikian ini bukan malah memberikan solusi terhadap disitegrasi bangsa, malah akan menambah problem baru bagi umat Islam.

Referensi :
Seminar Nasional Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer diselenggarakan oleh Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia), dan PKU (Program Kaderisasi Ulama) DIY Gontor dengan Tutorial PAI UNY, DPPA UII, PTM, serta beberapa kampus lain di Yogyakarta, 23 Februari 2015
Misykat - Hamid Fahmi Zarkasyi
http://tutorialpaiuny.com
Modul
Gambar : http://koranfakta.net/wp/wp-content/uploads/2013/07/unity-google.jpg

Penyeberangan Shirath dan 'Jembatan Diantara Surga dan Neraka'

"Berhati-hati dari “duri-duri” dunia agar kita selamat dari kait-kait duri di akhirat ketika melintas di atas Ash-Shirath." Suatu kata-kata yang mengingatkan kita untuk senantiasa mawas diri.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang menegangkan. Fase inilah yang menentukkan keimanan seseorang, apakah iman yang dia miliki jujur ataukah palsu.

Marilah kita pahami, Jembatan (shirat) itu berada diatas neraka Jahanam. Dan setiap hamba akan melewati sesuai kadar amalnya saat masih hidup di dunia. Ada yang melewatinya dengan cepat seperti kedipan mata, cahaya kilat, hembusan angin, burung terbang, atau penunggang kudan dan unta. Ada yang melewatinya seperti orang yang berlari, merangkak, berjalan cepat atau berjalan biasa. Ada pula yang merangkak dengan sulit sampai akhirnya selamat sampai ke ujung. Selebihnya berguguran ke dalam neraka Jahanam.

Berikut gambaran jembatan shirat,

Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: "Wahai Rasûlullâh, bagaimana (bentuk) jembatan itu?". Jawab beliau, "licin (lagi) mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Najd, dikenal dengan pohon Sa'dân ..." (Muttafaqun 'alaih)

Para Ulama menyebutkan pula bahwa shirâth tersebut lebih halus daripada rambut, lebih tajam dari pada pedang, dan lebih panas daripada bara api, licin dan mengelincirkan.

Untuk lebih jelasnya perjalanan shirat ini mari kita pahami hadits yang cukup panjang ini,

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah,

"Wahai Rasulullah apakah pada hari kiamat kelak kita bisa melihat Rabb kita ?" Beliau balik bertanya, "Apakah kalian terhalang dari melihat bulan pada malam bulan purnama yang cerah tanpa awan ?" Para sahabat menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian terhalang dari melihat matahari pada tengah hari yang cerah tanpa awan ?" Para sahabat menjawab, "Tidak."

Beliau bersabda, "Demikian pula kalian tidak akan terhalang dari melihat Allah (sebagaimana kalian tidak terhalang dari melihat matahari di tengah hari atau bulan purnama saat tidak ada awan)."

Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat kelak, dan berfirman,

"Barang siapa beribadah kepada sesuatu, hendaklah dia mengikuti apa yang dia ibadahi itu !"

Maka siapa yang menyembah matahari akan mengikuti matahari. Siapa yang menyembah bulan akan mengikuti bulan. Siapa yang menyembah para thaghut akan mengikuti para thaghut. Yang tersisa hanyalah umat ini, termasuk di dalamnya orang-orang munafik. Allah mendatangi mereka dan berfirman,

"Aku adalah Rabb Kalian." Mereka menjawab, "Kami akan tetap bertahan disini sampai Rabb kami datang kepada kami. Jika Rabb kami datang, kami pasti mengenali-Nya."

Maka Allah mendatangi mereka dalam wujud yang mereka kenal, dan berfirman,

"Aku adalah Rabb kalian." Mereka menjawab, "Benar. Engkau adalah Rabb kami."  Mereka pun segera mengikuti-Nya. Lalu diletakkan sebuah jembatan di atas neraka Jahanam. Aku dan umatku adalah golongan manusia yang pertama kali melewatinya.

Pada hari itu tiada yang berbicara selain para Rasul, dan doa para Rasul pada saat itu adalah 'Ya Allah, selamatkanlah ! Selamatkanlah !'  "Pada jembatan itu ada jangkar pengait seperti duri As-Sa'dan. Pernahkah kalian melihat dari As-Sa'dan ?" Para sahabat menjawab, "Pernah, wahai Rasulullah."


السَّعْدَانِ
السَّعْدَانِ

Rasullullah bersabda, "Sesungguhnya jangkar-jangkar pengait itu seperti As-Sa'dan. Hanya saja besarnya hanya diketahui oleh Allah. Jangkar-jangkar pengait itu menyambar manusia sesuai kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang dibinasakan dengan amalnya, dan ada pula yang beberapa kali terhenti kemudian bisa melewatinya dengan selamat." (HR. Bukhari no. 6088 dan Muslim no. 267)

Jembatan Antara Surga dan Neraka

"Jika orang-orang mukmin telah semalat dari (melewati ash-shirath yang berada di atas) neraka, mereka akan ditahan di sebuah jembatan di antara surga dan neraka. Di antara mereka dilakukan proses pembalasan setimpal atas kezhaliman-kezhaliman yang terjadi semasa mereka hidup di dunia. Jika mereka telah bersih, mereka akan diizinkan untuk masuk surga. Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga melebihi pengetahuannya terhadap rumahnya di dunia." (HR. Bukhari no. 2260) 

Jika  orang-orang yang benar telah sukses melewati shirat dan mereka berhenti di jembatan antara surga dan neraka. Hal ini berkaitan dengan muamalah. Qishas itu supaya tidak ada dengki, iri dan hasad dibersihkan supaya masuk surga pada kondisi yang terbaik.

Walaupun ke zhaliman telah mendapat hukuman setimpal namun hati tetap ada ganjalan.  Supaya bersih dan tidak ada padanya dendam atau ganjalan hati kepada orang yang zhalim kepadanya.  Di Qanthara (jembatan antara surga dan neraka) inilah ada pembersihan perasaan dongkol dari orang yang di zhalimi terhadap yang menzhaliminya. Dan orang yang menzhalimi akan mendapat balasan setimpal.

Dan seseorang tidak diperkenankan masuk surga kecuali ada Qishash (pembalasan) yang sempurna.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan syafa’at di padang mahsyar supaya segera dapat keputusan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga meminta kepada malaikat penjaga surga akan membuka pintu sehingga dapat memasukinya.  Dan yang pertama masuk surga adalah umat muhammad.

Di neraka digiring dalam bentuk rombongan-rombongan. Setiap kali ada satu rombongan masuk maka ia mencaci maki rombongan sebelumnya. Sebagian berlepas diri kepada sebagian yang lain. Tidak lagi ikut-ikutan (dalam hal keburukan) itu bermanfaat. Yang mengajak kepada keburukan (ke neraka) lepas tangan dari yang diajak, ya keadaannya seperti itu.

Ketika masuk ke pintu neraka kemudian sudah langsung mendapat siksaan. Mereka masuk neraka . Orang kafir kekal di neraka selama-lamanya. Allah menakdirkannya masuk neraka bagi orang kafir. Dan  tidak ada detik akhirnya merasakan siksaan di neraka.

Referensi :
Kajian di Masjid Al-Hidayah Purwosari bersama Ust. Aris Munandar
Buku Perjalanan Ke Akhirat oleh Abu Fatiah Al Adnani
http://almanhaj.or.id/content/3612/slash/0/mengimani-shirth-jembatan-di-atas-neraka/
https://abangdani.wordpress.com/2013/01/02/beberapa-faidah-dari-sebuah-duri/

Memahami Hak Tetangga dalam Islam


“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan tetangga,

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Hadits,

” Jibril ‘alaihissalam senantiasa (terus-menerus) berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) dengan tetangga,sehingga aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga.” (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan 6015, Muslim no. 6852 dan 6854, dan imam-imam ahli hadits lainnya)

”Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Riwayat al-Bukhari no. 5673, 5784 dan 6111 dan Muslim kitab al-Iman bab al-Hats ‘ala Ikraamil Jaar wadh Dhaif no. 182)

Hadits ini sesuatu yang sudah jelas, Keimanan itu ada urutan-urutannya termasuk mencintai (berbuat baik kepada) tetangganya. Jelasnya penafian iman pada seseorang yang tidak cinta kepada tetangganya (hamba-Nya).  Namun hal penafian iman ini tidak sampai mengeluarkannya dari keimanan. Dan orang yang tidak berbuat baik kepada tetangganya itu bisa mengurangi kesempurnaan keimanan.

"Dari Anas bin Malik radhiallâhu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri". (H.R.Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksud mencintai disini ialah mencintai dalam hal kebaikan.

Kebanyakan tetangga itu menjadi pesaing dalam segala hal. Oleh karenanya didalam ketaatan dan kebaikan dari urusan-urusan kita bersama tetangga kita ialah dibutuhkan jiwa yang lapang, bersabar dan juga diperlukan usaha yang kuat.

Diantara kebaikan-kebaikan atau hak-hak tetangga, diantaranya :

1.    Berbuat lemah lembut, dan kebaikan berlemah lembut ini lebih diutamakan.

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dia memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Dia berikan kepada kekerasan dan tidak pula Dia berikan kepada yang lainnya.’’ (HR Muslim).

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.'' (QS. Ali Imran [3] : 159).

Urutan tetangga yang paling berhak ialah yang paling dekat dengan pintu kita, bisa jadi dari samping, depan maupun belakang.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata:

“Wahai Rasulullah, aku memiliki 2 tetangga, kepada yang mana yang aku harus beri hadiah (terlebih dahulu)? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kepada pintu yang lebih dekat dengan rumahmu.””

2.    Memulai dengan mengucapkan salam kepada mereka.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : Kalian tidak akan masuk Jannah sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan apa yang bisa membuat kalian saling mencintai? Para Shahabat berkata : “Tentu ya Rasulullah..” Sebarkanlah salam diantara kalian”. (HR. Muslim no.54)

3.    Mengunjunginya manakala ia sakit.
4.    Ta’ziyah ketika mereka meninggal dunia.
5.    Kita berikan ucapan selamat manakala mendapat kabar gembira.
6.    Ketika mereka mendapatkan musibah (cobaan) atau terpeleset dalam kesalahan, maka hendaknya kita menjaga perasaannya, membantunya, mengingatkan dengan baik dan menasihati mereka dan jangan sampai menyakiti tetangga dalam bentuk apapun.

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh mendzoliminya dan menyerahkannya (kepada musuh), barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesulitan dan kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaihi)

7.    Tidak mengintip (isi rumah) mereka.

Hadis riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Barang siapa melongok ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka mereka boleh mencungkil matanya. (Shahih Muslim No.4016)

Diantara adab bertamu salah satunya ialah ketika mengetok pintu dan mengucapkan salam posisinya menghadap kesamping, dan manakala diperkenankan masuk dia masuk dan manakala tidak diperkenankan masuk maka ia pergi.

8.    Tidak banyak menguping, tidak menggunjing (ghibah) dan mengawasi tetangga serta hendaknya menjaga aib-aib tetangga.

"Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaihi)

9.    Menjaga mereka dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

10.    Menjaga atau memenuhi kebutuhan mereka (tetangga yang kekurangan) ketika ditinggal keluarganya.

Maksudnya tetangga ini berlaku secara umum bukan hanya yang beragama Islam, yang kafir, fasik, saudara kita pun sama halnya memiliki hak-hak sebagai tetangga.

Tetangga yang kafir maka baginya mendapat hak-hak sebagai tetangga adapun tetangga yang muslim maka baginya mendapat hak-hak sebagai tetangga dan hak-hak muslim.

Tetangga muslim dan ia adalah kerabat ia mendapatkan 3 hal yakni memiliki hak-hak sebagai tetangga, sebagai muslim dan hak sebagai kerabat.
Infak atau nafkah yang paling utama ialah mulai dari orang tua, keluarga, kerabat, orang miskin dan fakir. Dan ini yang paling afdhal.

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah [2] : 215)

Harta kita sejatinya semua milik orang tua. Namun kita bagi dan sesuai kebutuhan ada yang untuk orang tua dan ada yang untuk keluarga, kerabat dsb.

11.    Tidak dikatakan seorang mu’min. Dirinya kenyang dan saudaranya lapar.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak disebut seorang mukmin yang dia kenyang sedangkan tetangganya lapar.”

Hal ini tidak langsung membuat seseorang keluar dari keimanan, namun hanya saja mengurangi kesempurnaan iman seseorang.

12.    Tidak boleh menutup pintu kita manakala dia ke rumah kita dan ingin mendapatkan keutamaan.

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dia berkata:

“Telah datang kepada kami suatu zaman / masa, di mana tidak ada seorang yang lebih berhak untuk mendapatkan uang dirham dan dinar daripada saudaranya yang Muslim (masa para sahabat Nabi Muhammad yang mulia). Sekarang (masa setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), kemudian datang masa yang orang itu lebih cinta kepada uangnya (dirham dan dinarnya) daripada kepada saudaranya sesama Muslim. Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berapa banyak tetangga pada hari kiamat yang akan bergelantungan memegangi tetangganya, seraya berkata (kepada Allah), “Wahai Rabb-ku, orang ini yang menutup pintunya kepadaku dan dia menghalangi kebaikannya dariku (tidak pernah membantuku).””

13.    Hendaklah bersabar dengan tetangga karena sering kali didalam interaksi terjadi gesekan-gesekan dan bersabar adalah lebih baik. Dan juga bersabar kepada tetangga yang tidak baik.

“Tiga orang yang Allah cintai, seorang yang berjumpa musuhnya dalam keadaan berjihad dan mengharap pahala Allah, lalu berperang sampai terbunuh dan seseorang memiliki tetangga yang mengganggunya lalu ia sabar atas gangguan tersebut dan mengharap pahala Allah sampai Allah cukupkan dia dengan meninggal dunia serta seseorang bersama satu kaum lalu berjalan sampai rasa capai atau kantuk menyusahkan mereka, kemudian mereka berhenti di akhir malam, lalu dia bangkit berwudhu dan shalat.” (Riwayat Ahmad dengan sanad yang shohih) (Lihat Huququl Jaar Fi Shohihis Sunnah wal Atsar, karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal 32)

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS.Al-Kahfi [18] : 28)

14.Tidak keluar rumah dengan membawa makanan atau buah-buahan yang menimbulkan keirian anak tetangga, dimana orang tuanya tidak mampu membelikannya.

Khara'ithi dan Thabari meriwayatkan dari Umar bin Syu'aib bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika engkau membeli buah-buahan, maka berikanlah sebagian kepada tetanggamu. Namun jika kamu tidak melakukannya, maka makanlah dengan sembunyi dan janganlah anakmu keluar rumah dengan membawa makanan tersebut sehingga membuat anak tetanggamu sakit hati."

15. Memperbanyak Kuah Masakan untuk Dibagikan kepada Tetangga

Dari Abi Dzar radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

“Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi wasiat kepadaku dengan 3 perkara: Yang pertama, agar mendengar dan mentaati walau yang memimpin adalah seorang budak yang jari-jarinya terputus (cacat). Yang kedua, kalau engkau memasak daging yang berkuah maka perbanyak kuahnya, kemudian lihatlah kepada tetangga-tetanggamu, lalu kau bagi kepada mereka. …”

Referensi :
Terinspirasi Kajian di Asrama Al-Madinah.
Gambar : https://pengajianldii.files.wordpress.com/2014/07/tetangga.jpg?w=300&h=201

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes