Selamat datang di website kami, Haidar Khotir, semoga sajian kami bermanfaat

Menghayati Makna Ghadhul Bashar

Ghadhul Bashar atau Menundukkan pandangan dari yang diharamkan untuk dilihat, bukan hanya untuk yang belum menikah saja. Namun yang sudah menikah juga harus menundukkan pandangan juga, namun untuk yang sudah menikah jauh lebih ringan kan sudah ada yang dilihat.

Ketika dia tidak sengaja melihat wanita yang bukan muhrimnya kan, bisa langsung kerumah untuk melihat Istrinya yang cantik.

Menundukkan pandangan itu hukumnya wajib, maka senantiasa kita harus taat kepada Allah dan Rasulnya dan senantiasa pulalah kita membiasakan kebaikan ini.

Menundukkan pandangan menutup Jalur Kemaksiatan

Menundukkan pandangan adalah salah satu cara kita untuk tidak bermaksiat dan salah satu jalur menuju maksiat adalah melalui pandangan, ketika seseorang melihat kepada yang wanita yang bukan muhrimnya maka panah-panah iblis yang beracun senantiasa tertancap terus kepada hati sehingga hati menjadi gelap dan gelapnya hati akan menghalangi seseorang dari cahaya ilmu.maka salah satu cara untuk meraih ilmu supaya gampang untuk memahami dan supaya cepat hafal al-Qur’an adalah menghindarkan diri dari pandangan yang sembarangan (maksiat).

Strategi Jitu

Ketika kemudian kita dijalan tidak sengaja melihat sepatu atau sandal ataupun telapak kaki dari seorang wanita, maka jangan dilanjutkan hingga keatas, karena itu akan menambah pulsa-pulsa maksiat.kita stop dari pandangan yang pertama, karena jika kita meneruskan maka akan terus manambah gejolak-gejolak.

Boleh jadi ketika kita melihat seseorang wanita yang tidak menutupi aurat itu, itu kelihatannya cantik yang sebenarnya memang jelek. Dan syaitan lah yang membuat semuanya yang jelek kelihatannya cantik. Jangan mudah tertipu dengan makar syaitan.

Seperti itulah syaitan. Membuat yang jelek-jelek itu kelihatannya indah dan membuat yang baik itu terlihat jelek.

Kisah dan Ayat-ayat

Masih ingatkah kisah imam syafi'i yang kehilangan hafalannya karena melihat betis yang tersingkap dan nasehat dari gurunya imam syafi'i "Waqi' sbb:

Aku mengadu kepada Waqi’ tentang jeleknya hafalanku

Maka ia membimbingku agar meninggalkan maksiat
Ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu Allah adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

Ghadhul Bashar adalah perintah Allah, yakni mengenai "Pedoman pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan "mahram" yakni dalam Surat An-Nuur : 30 - 31

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."
 
Nasihat

O ya , nasehat dari ustadz. seandainya belum mampu menikah maka berpuasalah. hayo siapa yang sudah
berpuasa minggu ini ?, itu yang diingatkan kepada kita. ya itu idealnya. Dan mengingatkan pula supaya memperbanyak dzikir kepada Allah.

Memperbaiki Persepsi

Kenapa tidak bilang para miss universe, miss selebriti atau putri indonesia dan serupa dengan itu adalah Putri yang menampakkan aurat.

Merokok perkasa gimana, loh bikin perokoknya impoten.hehe

Yang Celananya cingkrang dan berjenggot ditambah berjubah, pakai peci dibilang teroris, persepsi seperti inilah yang terkadang membuat orang yang kurang tahu menjadi alergi untuk mengaji, dan lebih parahnya mencela dengan celaan seperti ini.

Lebih-lebih yang berjenggot dibilang "kambing", sebenarnya berjenggot itu adalah sunnah, selama belum bisa janganlah menggunakan celaan ataupun guyonan yang kelewatan seperti ini. Orang nonmuslim pun banyak yang berjenggot.hehe

yang pakai celana cingkrang ada yang bilang "lagi banjir ya". ini pun sunnah, selama belum bisa mengamalkan cukuplah diam.

Referensi :
Terinspirasi Kajian oleh Ust. Bilal /13 April 2013.

http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/ilustrasi_101022101430.jpg

Generasi Muslim Profesional, Mandiri dan Berkarakter

Catatan Terpenting yang Mas Muhammad Ghufron Mustaqim (Fisipol 2009) ,(Representing Indonesia as Minister of Development to the G8 & G20 Youth Summit 2012) katakan adalah 5 hal bagi Seorang Muslim Untuk Menguasai Dunia yakni,

1. Sebaik Mungkin Menghafalkan Al Qur'an, karena dengan menghafal secara tidak langsung akan jauh lebih cepat dan baik sel-sel otak yang terhubung untuk mampu mempelajari informasi dengan baik, harapan beliau adalah suatu saat bisa menghafalkan Al- Qur'an 30 juz.

2. Memiliki Kemampuan Bahasa , setidaknya Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Bahasa Cina. mengapa Bahasa cina , karena di era Abad 21 cina memiliki posisi terpenting di Dunia.

3. Juara di Kompetisi. untuk mengetes sejauh mana kemampuan kita dibanding yang lain. dan jika menjadi juara maka setidaknya kita lebih dihormati , karena kualitas kita.

4. Memiliki Cita-cita kuliah di universitas terbaik di dunia.

5. Kerja di Institusi-Institusi terbaik , setidaknya menduduki posisi terpenting di Institusi tersebut karena dengan seperti itu mempunyai kesempatan untuk meng-edukasi, dan lebih mampu memberikan perubahan terhadap lingkungan secara global.

pesan dari beliau adalah:
"Belajarlah dari Ilmu Padi, Kian Berisi maka Kian pula merunduk"
"Tidak Ada Kata Tidak Untuk Berprestasi"

Referensi :
Terinspirasi SEMINAR MAHASISWA MUSLIM BERPRESTASI “MAHASISWA PROFESIONAL, MANDIRI DAN BERKARAKTER”Bersama: Muhammad Ghufron Mustaqim (Fisipol 2009) diselenggarakan oleh Keluarga Muslim Fakultas MIPA UGM, 04 April 2013 di A1.06-07

Perihal Berhutang Piutang


A. Hukum dan Tatacaranya

Hutang-piutang ini hukumnya adalah boleh 


sesuai dengan sunnah Nabi saw. Sabda Rasulullah saw adalah:
 “Tidaklah seorang muslim yang memberikan pinjaman atas hartanya kepada seorang muslim sebanyak dua kali kecuali seperti bershodaqoh satu kali.”(HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Menyangkut hutang piutang sebaiknya disertai dgn surat perjanjian secara tertulis, baik menyangkut jumlah dan jatuh tempo pembayarannya.



"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. 

Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.

Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. 

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. 

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. 

(Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. 

Jika kamu  lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." 

(Q.S. Al Baqarah : 282)

*Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya. 

Dan sangat diharamkan/dilarang untuk membungakan uang dari persyaratan utang piutang ini (riba).

B. Do'a ketika dililit Hutang

Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ’anhu bertutur: “Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ’anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya: ”Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?” Ia menjawab: ”Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: ”Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?” Ia menjawab: ”Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:

“Allahumma innii a-’udzubika minal hammi wal hazani, wa a-’udzubika minal’ajzi wal kasali, wa a-’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a-’udzubika minal ghalabatiddiini wa qahri-rrijaal.”

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Kata Abu Umamah radhiyallahu ’anhu: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353)

C. Bahaya Berhutang

Memiliki hutang bukanlah kondisi yang menyenangkan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri bahkan berlindung kepada Allah ta’ala dari hutang seraya berkata:

“Seseorang jika sudah berhutang dia akan berbohong ketika berkata, dan menyelisihi ketika berjanji." (HR. Abu Dawud)

Maksudnya disini adalah: kemungkinan dia untuk berdusta dan menyelisihi janji sangatlah besar karena biasanya ketika dia merasa kesulitan melunasi hutang dia harus menggunakan berbagai cara untuk menunda-nunda pembayaran termasuk berbohong dan mengingkari janji.

Hadits diatas sudah cukup  sebagai alasan bagi seorang muslim untuk sebisa mungkin menghindari hutang.



Referensi:
Terinspirasi Kajian Al Hidayah oleh Ustadz Abu Abdirrahman, 3 April 2013
http://jofania.wordpress.com/2010/01/23/doa-mengatasi-utang/
http://www.belajarislam.com/antara-hutang-dan-tawakal/
http://www.indosuara.com/wp-content/uploads/2012/09/hutang1.jpg (dengan editan)

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes