Selamat datang di website kami, Haidar Khotir, semoga sajian kami bermanfaat

Kan Ku Kejar Rumah Surga (5)


Manakala Ta'aruf

Manakala seseorang ta'aruf  (baik itu ikhwan maupun akhwat keduanya) niatnya memang harus sungguh-sungguh dan bukan untuk main-main atau hanya sekedar mencoba. Selalulah perbaiki niat dalam segala aspek kehidupan termasuk ta'aruf.

Ada suatu kondisi manakala akhwat tidak berani menolak sehingga apa yang utarakan menyatakan bahwa dia itu masih ragu untuk menolak dan menimbulkan benih-benih harapan kepada ikhwan yang ditolaknya. Dan ini tentu tidak baik untuk keduanya.

Alasan yang dilakukan oleh akhwat yang kesan katanya meragukan seperti ini :

maaf, akhi...bukannya aku menolak tapi...
atau dalam versi lain
maaf, akhi...bukannya aku benci tapi rindu...hehe

ya, tadi kata-kata seperti diatas memberikan kesan munafik yakni  masih ragu untuk menolak dan menimbulkan benih-benih harapan kepada ikhwan yang ditolaknya.

Perkataan penolakan diatas menimbulkan ikhwan itu bersemangat untuk menunggu hingga alasannya dan akhirnya dia diterima, sehingga akhwat terkesan di teror. Padahal akhwat aslinya ia ingin menolaknya tapi tidak enakan.

Kalau memang tidak suka atau tidak ingin ta'aruf ya STOP.

Katakan kata seperti ini :

Maaf, akhi...saya sudah tahajud dan sudah shalat malam untuk meminta petunjuk kepada Allah, namun petunjuk itu belum dateng, saya menolak akhi. semoga akhi mendapatkan yang lebih baik dari saya.

atau perkataan yang se-ahsan diatas.

Seseorang menikah itu bukan karena dia nunggu memiliki pekerjaan. Namun selalu niatkan karena Allah, kalau sekarang waktunya menikah,dan Qadarullah, ya sudah...hmm

Komitmen yang tidak pada tempatnya

Pernahkah anda, mendengar ada seorang ikhwan yang ia ingin ta'aruf kepada akhwat, kemudian akhwat mengatakan tunggu aku lulus dulu atau tunggu aku satu tahun lagi atau menikahnya nanti aja atau kalimat yang sejenis itu. Komitmen inilah yang saya maksud dengan komitmen yang tidak pada tempatnya.

Komitmen yang tidak pada tempatnya seperti ini menimbulkan kedua belah pihak untuk :

- Memiliki rasa bahwa 'meyakini bahwasanya masih hidup satu tahun lagi'. pertanyaannya apakah masih ada jaminan atau garansi untuk kedepannya bisa hidup satu tahun lagi ? sehingga menimbulkan penyakit yakni panjang angan-angan.

- Mampu menimbulkan kemaksiatan dan kemaksiatan itu sulit untuk dihindari.

- Menutup rezeki. Karena boleh jadi Allah akan mempertemukan dengan pasangannya yang dia lebih baik.

Baiknya Memahami ini dulu.hmm

Hakikatnya laki-laki (Ikhwan) itu memilih dan perempuan (akhwat) itu dipilih. Ketika kemudian seorang laki-laki (ikhwan) ketika kemudian dia ditolak akhwat atau disuruh untuk menunggu maka sikap yang terbaik ialah tinggalkan dia, cari yang lain, ikhwan itu harus memiliki kemuliaan, harus memiliki izzah, harus memiliki wibawa (wibawa uang, wibawa mobil, wibawa rumah mewah..hehe ,tambahan aja :peny).

Bagaimana Menyikapi Supaya Orang Tua Percaya

Sebenarnya yang menulis saja, masih terus mencari celah yang tepat...hehe. Bagi yang belum memiliki pekerjaan atau pekerjaan tetap teruslah mencoba untuk berdikari, mandiri, stop logistik dari orang tua dan mulailah untuk mandiri. Manakala seseorang belum mandiri terus dia bilang (baca: berbicara) ke orang tua atas keinginannya ingin menikah, maka itu sama aja tindakan yang cukup konyol...hehe.

Maka yakinkanlah kepada orang tua selayaknya kiasan "Kita bersama teman kita, nih lagi mau makan bareng kemudian pada saat itu kita nih yang membayarkan. Manakala kita mau minta pertolongan kepada orang lain untuk membantu kita, In syaa Allah dia akan membantu kita..hehe, tekhnik seperti ini pula yang bisa dilakukan kepada orang tua. Tiba-tiba nih (tentu saja kita sudah memiliki pekerjaan) , kita ngasih (baca: memberi) ke orang tua sesuatu, In syaa Allah ketika kita mengatakan sesuatu lebih bisa di dengar, lah wong sudah mandiri.hehe. Maka orang tua akan lebih percaya.

Pilih Mana Agama atau Materi ?

Ada suatu pertanyaan menarik dari jamaah, yakni : "Ustadz, Apa yang lebih didahulukan apakah kemapanan dalam segi agama atau kemapanan dalam segi materi (harta) ?"

Jawabnya ialah lebih cenderung ,pilihlah yang lebih pada kemapanan dalam segi agama. Yakin seyakin-yakinnya bahwasannya orang yang memiliki kematangan dalam segi agamanya, dia pasti tahu akan tanggung jawab, dia pasti tahu makna amanah di dalam berkeluarga, dan mampu memberikan bukan hanya nafkah secara lahiriyah tetapi juga nafkah ruhiyah.

Referensi :
Terinspirasi Kajian Kamis Pagi di Masjid Mardliyyah, Tema : Cinta dalam Pandangan Islam oleh Ust. Adi Abdillah @ 6 Februari 2014.
http://amininoorm.files.wordpress.com/2011/12/bunga.jpg
http://amininoorm.wordpress.com/2011/12/04/indahnya-taaruf-secara-islami/

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes