Selamat datang di website kami, Haidar Khotir, semoga sajian kami bermanfaat

Penyeberangan Shirath dan 'Jembatan Diantara Surga dan Neraka'

"Berhati-hati dari “duri-duri” dunia agar kita selamat dari kait-kait duri di akhirat ketika melintas di atas Ash-Shirath." Suatu kata-kata yang mengingatkan kita untuk senantiasa mawas diri.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang menegangkan. Fase inilah yang menentukkan keimanan seseorang, apakah iman yang dia miliki jujur ataukah palsu.

Marilah kita pahami, Jembatan (shirat) itu berada diatas neraka Jahanam. Dan setiap hamba akan melewati sesuai kadar amalnya saat masih hidup di dunia. Ada yang melewatinya dengan cepat seperti kedipan mata, cahaya kilat, hembusan angin, burung terbang, atau penunggang kudan dan unta. Ada yang melewatinya seperti orang yang berlari, merangkak, berjalan cepat atau berjalan biasa. Ada pula yang merangkak dengan sulit sampai akhirnya selamat sampai ke ujung. Selebihnya berguguran ke dalam neraka Jahanam.

Berikut gambaran jembatan shirat,

Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: "Wahai Rasûlullâh, bagaimana (bentuk) jembatan itu?". Jawab beliau, "licin (lagi) mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Najd, dikenal dengan pohon Sa'dân ..." (Muttafaqun 'alaih)

Para Ulama menyebutkan pula bahwa shirâth tersebut lebih halus daripada rambut, lebih tajam dari pada pedang, dan lebih panas daripada bara api, licin dan mengelincirkan.

Untuk lebih jelasnya perjalanan shirat ini mari kita pahami hadits yang cukup panjang ini,

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah,

"Wahai Rasulullah apakah pada hari kiamat kelak kita bisa melihat Rabb kita ?" Beliau balik bertanya, "Apakah kalian terhalang dari melihat bulan pada malam bulan purnama yang cerah tanpa awan ?" Para sahabat menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian terhalang dari melihat matahari pada tengah hari yang cerah tanpa awan ?" Para sahabat menjawab, "Tidak."

Beliau bersabda, "Demikian pula kalian tidak akan terhalang dari melihat Allah (sebagaimana kalian tidak terhalang dari melihat matahari di tengah hari atau bulan purnama saat tidak ada awan)."

Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat kelak, dan berfirman,

"Barang siapa beribadah kepada sesuatu, hendaklah dia mengikuti apa yang dia ibadahi itu !"

Maka siapa yang menyembah matahari akan mengikuti matahari. Siapa yang menyembah bulan akan mengikuti bulan. Siapa yang menyembah para thaghut akan mengikuti para thaghut. Yang tersisa hanyalah umat ini, termasuk di dalamnya orang-orang munafik. Allah mendatangi mereka dan berfirman,

"Aku adalah Rabb Kalian." Mereka menjawab, "Kami akan tetap bertahan disini sampai Rabb kami datang kepada kami. Jika Rabb kami datang, kami pasti mengenali-Nya."

Maka Allah mendatangi mereka dalam wujud yang mereka kenal, dan berfirman,

"Aku adalah Rabb kalian." Mereka menjawab, "Benar. Engkau adalah Rabb kami."  Mereka pun segera mengikuti-Nya. Lalu diletakkan sebuah jembatan di atas neraka Jahanam. Aku dan umatku adalah golongan manusia yang pertama kali melewatinya.

Pada hari itu tiada yang berbicara selain para Rasul, dan doa para Rasul pada saat itu adalah 'Ya Allah, selamatkanlah ! Selamatkanlah !'  "Pada jembatan itu ada jangkar pengait seperti duri As-Sa'dan. Pernahkah kalian melihat dari As-Sa'dan ?" Para sahabat menjawab, "Pernah, wahai Rasulullah."


السَّعْدَانِ
السَّعْدَانِ

Rasullullah bersabda, "Sesungguhnya jangkar-jangkar pengait itu seperti As-Sa'dan. Hanya saja besarnya hanya diketahui oleh Allah. Jangkar-jangkar pengait itu menyambar manusia sesuai kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang dibinasakan dengan amalnya, dan ada pula yang beberapa kali terhenti kemudian bisa melewatinya dengan selamat." (HR. Bukhari no. 6088 dan Muslim no. 267)

Jembatan Antara Surga dan Neraka

"Jika orang-orang mukmin telah semalat dari (melewati ash-shirath yang berada di atas) neraka, mereka akan ditahan di sebuah jembatan di antara surga dan neraka. Di antara mereka dilakukan proses pembalasan setimpal atas kezhaliman-kezhaliman yang terjadi semasa mereka hidup di dunia. Jika mereka telah bersih, mereka akan diizinkan untuk masuk surga. Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga melebihi pengetahuannya terhadap rumahnya di dunia." (HR. Bukhari no. 2260) 

Jika  orang-orang yang benar telah sukses melewati shirat dan mereka berhenti di jembatan antara surga dan neraka. Hal ini berkaitan dengan muamalah. Qishas itu supaya tidak ada dengki, iri dan hasad dibersihkan supaya masuk surga pada kondisi yang terbaik.

Walaupun ke zhaliman telah mendapat hukuman setimpal namun hati tetap ada ganjalan.  Supaya bersih dan tidak ada padanya dendam atau ganjalan hati kepada orang yang zhalim kepadanya.  Di Qanthara (jembatan antara surga dan neraka) inilah ada pembersihan perasaan dongkol dari orang yang di zhalimi terhadap yang menzhaliminya. Dan orang yang menzhalimi akan mendapat balasan setimpal.

Dan seseorang tidak diperkenankan masuk surga kecuali ada Qishash (pembalasan) yang sempurna.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan syafa’at di padang mahsyar supaya segera dapat keputusan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga meminta kepada malaikat penjaga surga akan membuka pintu sehingga dapat memasukinya.  Dan yang pertama masuk surga adalah umat muhammad.

Di neraka digiring dalam bentuk rombongan-rombongan. Setiap kali ada satu rombongan masuk maka ia mencaci maki rombongan sebelumnya. Sebagian berlepas diri kepada sebagian yang lain. Tidak lagi ikut-ikutan (dalam hal keburukan) itu bermanfaat. Yang mengajak kepada keburukan (ke neraka) lepas tangan dari yang diajak, ya keadaannya seperti itu.

Ketika masuk ke pintu neraka kemudian sudah langsung mendapat siksaan. Mereka masuk neraka . Orang kafir kekal di neraka selama-lamanya. Allah menakdirkannya masuk neraka bagi orang kafir. Dan  tidak ada detik akhirnya merasakan siksaan di neraka.

Referensi :
Kajian di Masjid Al-Hidayah Purwosari bersama Ust. Aris Munandar
Buku Perjalanan Ke Akhirat oleh Abu Fatiah Al Adnani
http://almanhaj.or.id/content/3612/slash/0/mengimani-shirth-jembatan-di-atas-neraka/
https://abangdani.wordpress.com/2013/01/02/beberapa-faidah-dari-sebuah-duri/

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes